Showing posts with label ideas. Show all posts
Showing posts with label ideas. Show all posts

Friday, August 05, 2011

About Time to Excel in Life

Wolfgang Amadeus Mozart, the musical genius, once wrote to his friend,

“People err who think my art comes easily to me. I assure you, dear friend, nobody has devoted so much time and thought to composition as I. There is not a famous master whose music I have not industriously studied through many times.”

By the time he was twenty-eight years old, his hands were deformed badly because of so many hours he had spent practicing, performing, and gripping a quill pen to compose his extraordinary music.

There is no such a thing such as 'natural geniuses'. All those extraordinary things happened in human history takes time to achieve. Mention great names you have in mind, and read their biography, and learn what they did in their life. They devoted their life to whatever they are mastering. And when people talk about life, implicitly they talk about time, because life is about time.

Some people think the result will come instantly. They read one great book, and they think tomorrow they will get the 'big result'. It simply cannot happen.

Read many books, write many pages. Do many small errors, and learn from them. Be patient and be consistent. Don't give up because of those errors. And don't give up because the result seem so far away or so high to reach. Be confident and be patient to take a ladder a day, by the end of the week you will stepped seven ladders. And if you pay enough attention to the process of doing it, by the end of the year, you are 365 ladders higher than those people who are expecting instant results.

Patience is not the same as not doing anything. Patience is about put your faith about the end result, however long it will take to get there. Patience is about taking those ladders every day. Do something every day, whatever it is you can do. Take that one ladder today to make you higher than anyone else.

Time to excel in anything, takes time, endurance, and patience.

Thursday, July 22, 2010

Indonesia Mengajar

Surat untuk Anak-anak Muda Indonesia
Dari : Anies Baswedan
Hal : Indonesia Mengajar


Saya menulis khusus pada Anda dengan sebuah keyakinan bahwa kita bersama bisa saling dukung demi kemajuan republik dan bangsa kita. Saya yakin karena sejarah sudah membuktikan bahwa Republik ini berdiri, tumbuh, berkembang dan maju seperti sekarang karena ditopang oleh anak-anak muda yang tecerdaskan, tangguh dan energik seperti Anda.


Hari ini kondisi kita jauh lebih maju daripada saat kita menyatakan merdeka. Saat republik berdiri, angka buta huruf adalah 95%. Saya membayangkan betapa beratnya beban para pemimpin republik muda di waktu itu. Mereka harus menggerakan kemajuan dari nol, dari nol besar. Puluhan juta rakyatnya sanggup berjuang dalam revolusi kemerdekaan, tapi tidak sanggup menuliskan namanya sendiri. Hari ini melalui kerja kolektif seluruh bangsa, kita berhasil memutarbalikan hingga tinggal 8% yang buta huruf. Tidak banyak bangsa besar di dunia yang dalam waktu 60 tahun bisa berubah sedrastis ini.


Itu prestasi kolosal, dan kita boleh bangga. Tapi daftar masalah yang belum terselesaikan masih panjang. Melek huruf adalah langkah awal. Langkah berikutnya adalah akses yang merata, akses untuk setiap anak pada pendidikan berkualitas. Pendidikan berkualitas adalah kunci mengkonversi dari kemiskinan dan keterbelakangan menjadi kemajuan, menjadi bangsa yang cerdas, adil dan makmur.


Garda terdepan dalam soal pendidikan ini adalah guru. Di balik kompleksitas perdebatan yang rumit dan panjang soal sistem pendidikan, soal kurikulum, soal ujian dan semacamnya, berdiri para guru. Mereka bersahaja, berdiri di depan anak didiknya; mereka mendidik, merangsang dan menginspirasi. Dalam himpitan tekanan ekonomi, mereka hadir di hati anak-anak Indonesia. Hati mereka bergetar setiap melihat anak-anak itu menjadi orang di kemudian hari. Setiap ucapan terima kasih adalah tanda atas pahala guru-guru ini. Mereka adalah profesi terpercaya, pada pundak guru-guru ini kita titipkan persiapan masa depan republik ini.


Hari ini kita berhadapan dengan masalah: variasi kualitas guru dan distribusi guru. Menghadapi masalah ini kita bisa berkeluh kesah, menyalahkan negara dan menuding pemerintah. Atau kita gulungkan lengan baju dan berbuat sesuatu. Saya mengajak kita semua untuk turun tangan. Libatkan diri kita untuk mempersiapkan masa depan republik. Untuk kita, untuk masa depan anak-anak kita dan untuk melunasi janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa.


Saat ini saya dan banyak kawan seide sedang mengembangkan program Indonesia Mengajar, yaitu sebuah inisiatif dengan misi ganda: pertama, mengisi kekurangan guru berkualitas di Sekolah Dasar, khususnya di daerah terpencil; dan kedua menyiapkan lulusan perguruan tinggi untuk jadi pemimpin masa depan yang memiliki pengetahuan, pengalaman dan kedekatan dengan rakyat kecil di pelosok negeri.


Kami mengundang putra-putri terbaik republik ini untuk menjadi Pengajar Muda, menjadi guru SD selama 1 tahun. Satu tahun berada di tengah-tengah rakyat di pelosok negeri, di tengah anak-anak bangsa yang kelak akan meneruskan sejarah republik ini. Satu tahun berada bersama anak-anak di dekat keindahan alam, di pesisir pulau-pulau kecil, di puncak-puncak pegunungan dan di lembah-lembah hijau yang membentang sepanjang khatulistiwa. Saya yakin pengalaman satu tahun ini akan menjadi bagian dari sejarah hidup yang tidak mungkin bisa Anda lupakan: desa terpencil dan anak-anak didik itu akan selalu menjadi bagian dari diri Anda.


Di desa-desa terpencil itu para Pengajar Muda akan menorehkan jejak, menitipkan pahala; bagi para siswa SD disana, alas kaki bisa jadi tidak ada, baju bisa jadi kumal dan ala kadarnya tapi mata mereka bisa berbinar karena kehadiran Anda.


Anda hadir memberikan harapan. Anda hadir mendekatkan jarak mereka dengan pusat kemajuan. Anda hadir membuat anak-anak SD di pelosok negeri memiliki mimpi. Anda hadir membuat para orang-tua di desa-desa terpencil ingin memiliki anak yang terdidik seperti anda. Ya, ketertinggalan adalah baju mereka sekarang, tapi Anda hadir merangsang mereka untuk punya cita-cita, punya mimpi. Mimpi adalah energi mereka untuk meraih baju baru di masa depan. Kemajuan dan kemandirian adalah baju anak-anak di masa depan. Anda hadir disana, di desa mereka, Anda hadir membukakan pintu menuju masa depan yang jauh lebih baik.


Sebagai Pengajar Muda, Anda adalah role model, Anda menjadi sumber inspirasi. Kita semua yakin, mengajar itu adalah memberi inspirasi. Menggandakan semangat, menyebarkan harapan dan optimisme; hal-hal yang selama ini terlihat defisit di pelosok negeri ini.


Bukan hanya itu, selama 1 tahun para Pengajar Muda ini sebenarnya akan belajar. Pengalaman berada di pelosok Indonesia, tinggal di rumah rakyat kebanyakan, berinteraksi dekat dengan rakyat. Menghadapi tantangan mulai dari sekolah yang minim fasilitas, desa tanpa listrik, masyarakat yang jauh dari informasi sampai dengan kemiskinan yang merata; itu semua adalah wahana tempaan, itu pengembangan diri yang luar biasa. Anda dibenturkan dengan kenyataan republik ini. Anda ditantang untuk mengeluarkan seluruh potensi energi Anda untuk mendorong kemajuan. Satu tahun ini menjadi leadership training yang luar biasa. Sukses itu sering bukan karena berhasil meraih sesuatu, tetapi karena Anda berhasil menyelesaikan dan melampaui tantangan dan kesulitan. Setahun Anda berpeluang membekali diri sendiri dengan resep untuk sukses.


Apalagi, kita semua tahu bahwa: You are a leader only if you have follower. Keberhasilan Anda menjadi leader di hadapan anak-anak SD adalah pengalaman leadership yang kongkrit. Biarkan anak-anak itu memiliki Anda, mencintai Anda, menyerap ilmu Anda, mengambil inspirasi dari Anda. Anda mengajar selama setahun, tapi kehadiran Anda dalam hidup mereka adalah seumur hidup, dampak positifnya seumur hidup.


Sesudah satu tahun menjadi Pengajar Muda, Anda bisa meniti karir di berbagai bidang. Anda memulai karir dengan bobot pengalaman dan nilai kepemimpinan yang luar biasa. Saya sering tekankan: your high GPA will get you a job interview, but your leadership gets you the bright future. Setahun menjadi Pengajar Muda tidak akan membuat Anda terlambat dibandingkan kawan-kawan yang tidak menjadi Pengajar Muda. Perusahaan-perusahaan, institusi masyarakat dan lembaga pemerintahan semua akan memandang Anda sebagai anak-anak muda yang cerdas, berpengalaman, kreatif, berkepemimpinan kuat, konstruktif dan grounded. Mereka sangat mencari anak-anak muda seperti itu. Mereka akan membuka lebar pintunya bagi kehadiran Pengajar Muda.


Sejak awal bulan Juni 2010 Gerakan Indonesia Mengajar membuka peluang bagi bakat-bakat muda terbaik bangsa seperti Anda, dari berbagai disiplin ilmu dan dari dalam negeri maupun dari luar negeri, untuk menjadi Pengajar Muda. Sarjana yang direkrut oleh Gerakan Indonesia Mengajar hanyalah best graduate, sarjana-sarjana terbaik: berprestasi akademik, berjiwa kepemimpinan, aktif bermasyarakat, kemampuan yang komunikasi baik.


Sebelum berangkat, Anda akan dibekali dengan pelatihan yang komplit sebagai bekal untuk mengajar, untuk hidup dan untuk berperan di pelosok negeri. Selama menjadi Pengajar Muda, Anda akan mendapatkan gaji yang memadai dan kompetitif dibandingkan kawan Anda yang bekerja di sektor swasta. Anda akan dibekali dengan teknologi penunjang selama program dan jaringan yang luas untuk memilih karier sesudah selesai mengabdi sebagai Pengajar Muda. Selama menjadi Pengajar Muda, Anda tidak akan dibiarkan sendirian. Kami akan hadir dekat dengan Anda.


Seselesainya program ini, Anda meniti karier sebagai anak-anak terbaik bangsa. Dalam beberapa tahun kedepan, Anda menjadi garda terdepan Indonesia di era globalisasi baik di sektor swasta maupun publik. Kelak Anda menjadi pemimpin di bidang masing-masing dengan kompetensi kelas dunia dan ditopang pemahaman mendalam tentang bangsa sendiri. One day you become world class leader, but grounded and strong roots in the heart of the nation. Suatu saat mungkin Anda menjadi CEO, menjadi guru besar, menjadi pejabat tinggi atau yang lainnya, saat itu di posisi apapun, Anda selalu bisa mengatakan bahwa "Saya pernah hidup di desa terpencil dan mengabdi untuk bangsa ini"; hari ini kita bisa dengan mudah menghitung berapa banyak kalangan sipil yang sanggup mengatakan kalimat itu.


Di atas segalanya, program ini menawarkan kesempatan untuk setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi anak bangsa. Setahun menempa diri, seumur hidup memancarkan gelora kepemimpinan.


Saya menggugah, sekaligus menantang Anda. Saya mengajak Anda untuk bergabung bersama Indonesia Mengajar. Menjadi bagian dari ikatan untuk membangun Indonesia kita.


Salam hangat,
Anies Baswedan
anies.baswedan@indonesiamengajar.org


Pendaftaran Pengajar Muda dan info lebih jauh di www.indonesiamengajar.org
(deadline pendaftaran 30 Juli 2010).


Sila utk memforward surat ini pada teman, saudara, dan lingkungan yang anda rasa berminat utk melangkah bersama dalam Indonesia Mengajar.

Thursday, November 05, 2009

Facebook Invitations

What if I ignored the invitations on my facebook account, and approve it one year (or more) later?

Wednesday, October 07, 2009

Open Source Data Mining di Indonesia

Apa yang bisa dilakukan dengan perangkat-perangkat lunak berbasis Open Source di Indonesia, khususnya perangkat lunak Data Mining?

Ini beberapa curah-ide (brainstorming):
  • Identifikasi peraturan daerah, perpu, peraturan menteri, undang-undang, dan sebagainya yang saling kontradiksi satu sama lain.
  • Mengidentifikasi aliran uang yang terlibat di dalam pencucian uang (money laundering), khususnya untuk identifikasi pemilik rekeningnya, supaya bisa diajukan ke KPK.
  • Mencari tahu lapangan kerja yang betul-betul dibutuhkan di Indonesia, profesi apa yang paling dicari sama tenaga kerja Indonesia, profesi apa saja yang sudah jenuh.
  • Mencari potensi obat-obat tradisional Indonesia dengan menambang data DNA tumbuh-tumbuhan endemik.

Monday, June 15, 2009

Important Words

Suppose you are given a bunch of texts. They can be as small as one short sentence, a simple paragraph, or a complex document. From these texts, you were asked to determine the most important words representing each text. What is your strategy?

One simple way to answer this problem is to calculate the occurrence of all words in each text. The words that has high number of occurrence can be safely assumed to be the most important ones.

Another approach is to consider the first and the last sentence of each paragraph. This strategy is applicable to texts that at least has one paragraph. We know that most people write the main idea of paragraph in the first sentence, or sometimes in the last sentence. So it is worth considering these two positions in a paragraph.

You have to know how to identify what character starts and ends a sentence though. For example, most sentence ends by a period, like this sentence. But sometimes, period is used to denote abbreviations as well, as in "Ph.D.", or "Washington, D.C.". Your algorithm has to take into consideration of these appearance of periods in the middle of a sentence.

Another approach I can think of right now, is to throw out the stop words. These are words that has no important meaning, they support the whole sentence as a connector in complex sentence, such as "and", "or". State it in other words, stop words are the words which if you dropped them from a sentence, you can still get the meaning of the sentence. Try this example:

I was going to market with my wife yesterday, and we bought a kilo of apple.

If we drop "was", "to", "with", "and", "a", "of" from that sentence, we can still get what I want to say:

I going market my wife yesterday, we bought kilo apple.

Using this approach, your algorithm should be able to identify which words belong to stop words.

Any other ideas?

Friday, November 07, 2008

New NSF Grant Takes Maryland "Into the Clouds"

Greetings from the University of Maryland Newsdesk web services. The following article, New NSF Grant Takes Maryland "Into the Clouds", has been sent to you by barliant@gmail.com, along with the following message.

Machine Translation using Wikipedia

To see this article in its original form visit the University of Maryland Newsdesk at http://www.newsdesk.umd.edu/SciTech/release.cfm?articleID=1750

For Immediate Release
October 3, 2008
Contacts: David Ottalini, 301 405 4076 or dottalin@umd.edu

New NSF Grant Takes Maryland "Into the Clouds"

Jimmy Lin is an assistant professor in Maryland's iSchool (College of Information Studies)

Philip Resnik is an associate professor in Maryland's Department of Linguistics and the Institute of Advanced Computer Studies

College Park , MD - "Cloud computing" is a revolutionary change in the way computers are used that involves harnessing the power of large computer clusters to tackle "Web-scale" problems. The National Science Foundation (NSF) has teamed up with Google and IBM to provide researchers from the University of Maryland and other academic institutions with access to massively-scaled, highly-distributed cloud computing resources through the newly-formed Cluster Exploratory (CluE) program." Academic researchers can now take advantage of these resources to engage and explore this emerging model of computing," says NSF program officer Jim French, who will be leading the program for the federal government.

The College of Information Studies, Maryland 's iSchool, has received one of three initial research grants under this NSF program, $200,000 over two years. The effort is led by Assistant Professor Jimmy Lin of the iSchool and Associate Professor Philip Resnik of the Department of Linguistics and the Institute of Advanced Computer Studies. Together, they will tackle the problem of making information available on a global scale across the world's languages, using the richly linked structure of Wikipedia to help improve automatic translation from one language to another.

Prof. Lin says, "Although Wikipedia has emerged as a valuable repository of human knowledge, contributors work for the most part in silos defined by different languages." Prof. Resnik adds, "Improving the quality of translation is a huge challenge, but if we can come up with the right tools, Wikipedia offers significant opportunities: the wide range of languages, the combination of text and structure, and, most of all, a huge community deeply committed to the global availability of knowledge."

The University of Maryland is among the leaders in this new frontier of cloud computing. In October 2007, Google and IBM announced the Academic Cloud Computing Initiative, which aims to bring cloud computing technology into the classroom to educate the next generation of knowledge workers. Led by Prof. Lin, Maryland was one of six universities in the initial pilot program. "We are delighted to have these extraordinary opportunities to be at the forefront of a computing revolution," says iSchool Dean Jennifer Preece. "The work of our faculty cements Maryland 's status as a world-class public research university."

About Maryland's iSchool

The College of Information Studies, Maryland's iSchool, empowers people, organizations and society to use information effectively through its research and undergraduate, graduate and professional programs. Maryland's iSchool enables students and faculty to create new ways for people to connect with information that will transform society and is ideally located in the information capital of the world - the Washington DC metro region. The iSchool is transforming itself as well, from a small college with a strong foundation in library and information studies programs to a fast-growing and groundbreaking center of expertise that will help people manage the information explosion from childhood to adulthood.
For more information on Maryland's iSchool, visit www.ischool.umd.edu

About the University of Maryland

From its pre-Civil War roots as Maryland's first agricultural college and one of America's original land grant institutions, the University of Maryland today is the flagship campus of the University System of Maryland and one of the nation's preeminent public research universities. Ranked No. 18 by U.S. News & World Report, it also has 31 academic programs in the Top 10 and 92 in the Top 25. The current faculty includes three Nobel Laureates, six Pulitzer Prize winners, 40 members of the National Academies of Science, a three-time Emmy Award winner, and scores of Fulbright scholars. Maryland is committed to excellence as the state's premier center of research and graduate education and the institution of choice for undergraduate students of exceptional ability and promise. For more information about the University of Maryland, visit www.umd.edu.

University of Maryland
Where is the University of Maryland?


08169

Wednesday, October 22, 2008

Search Engine with Semantic Capabilities

Suppose I need to find a wonderful tool to read my electronic books. Strictly speaking, I have a big collection of e-books in different formats. Most of them are in PDF, some others in PostScript, while there are several e-books in DJVU format. A small portion of my e-library contains files in Microsoft Word *.doc format.

I love reading those books. So I need a great software that can read these formats, not only PDF like Adobe Acrobat. I need one single software that can read PDFs, PSes, DJVUs, DOCs, TXTs, . . . As for another criteria among others, is this software should have a feature that allow me to create bookmarks in all of my e-books. And I also need that the next time I open one particular e-book, I just continue reading from the last page I read. I don't like the idea of finding which page the last time I read an e-book, scrolling down through pages from page one to the last page I read is out of question.

I don't have any idea of the existence of this kind of software. What can I do? If we go to a brainstorming session, here are some options:

I can build that software myself. Maybe I build it from scratch, or using some existing libraries I can find in the internet. The problem with this option is it will take some time for me before I can enjoying reading my e-books.

Another option I can take is I can ask Mr. Google to help me finding such a software. But the problem is what phrases should I type into Google's textbox? Any idea? Maybe you can come up with

"e-book reader", or
"e-book reader with bookmark capabilities", or
"reader software", or
several other phrases you can come up with.

How should you include information to your query that you need such specific features from the software you need to find? At this time all I can think of is entering this long query to Google:

"e-book reader pdf ps djvu bookmark capability windows xp free"

Saturday, December 08, 2007

Brainstorming

Sorry, just need to scratch some sparked ideas.

  • Identify interrogative sentences
  • Identify language name
  • Obtain the answer
  • Fill in the slot

Thursday, November 29, 2007

Re: [beasiswa] Re: (Info) Times Top400 universities- Warning untuk Indonesia.......

Saya memberikan komentar pribadi saya tentang apa yang dibahas di mailing-list beasiswa@yahoogroups.com. Saya menuliskan pemikiran saya pribadi di blog ini karena saya pikir apa yang saya tuliskan sebagai komentar masih sangat dini sebagai sebuah ide.
Komentar saya tuliskan di bawah, mengikuti bagian tulisan yang saya komentari.

On 11/26/07, Pan Mohamad Faiz <pm_faiz_kw@yahoo.com> wrote:
"Bercermin dari keberhasilan India membuat "Silicon
Valley" kedua di Bangalore adalah hal yang patut kita
contoh, apakah infrastruktur mereka lebih kuat
dibanding kita? atau jumlah penduduk miskin kita lebih
besar dari mereka? belum tentu. Jadi dimana letak
kekurangan kita?....."

Tanggapan:

Boleh percaya atau tidak, infrastruktur mereka lebih rentan dibandingkan dengan negara kita dan jumlah penduduk miskinnya berkali lipat dari Indonesia.

Bedanya di mana? Mereka menaruh pendidikan sebagai salah satu prioritas sektor utama sejak dua dekade belakangan. Mereka menyadari bahwa hanya dengan pendidikan keterbelakangan dapat diatasi, sebab pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang butuh kesabaran dan keuletan untuk menikmati buahnya hasilnya. Budaya belajar-mengajar di seluruh lapisan masyarakat pun sangat tinggi, padahal bila kita dibandingkan infrastruktur Universitasnya pun tidak jauh beda dengan SMP atau SMA di Indonesia. Tapi salutnya tidak ada yang mengeluh secara berlebihan terhadap hal tersebut, sebab mereka lebih mengutamakan isi ketimbang kulit.
Indonesia masih sangat kekurangan dengan orang-orang yang mau bersusah payah 'menggelindingkan bola salju' pendidikan. Masalahnya, secara faktual, sangat banyak. Di antaranya kenyataan hidup di Indonesia menuntut tenaga pengajar untuk mencari sampingan. Sangat sedikit tenaga pengajar yang betul-betul mengabdikan dirinya untuk berkegiatan mengajar, meneliti, dan mengabdi. Bagaimanapun, faktanya mengantar anak ke sekolah tidak bisa dibayar dengan pengabdian. Susu anak tidak bisa dibeli dengan berapa lama seorang dosen telah mengabdi pada institusi pendidikan di mana dia mengajar.
Di satu sisi penghargaan jerih payah tenaga pengajar dari tingkat TK, SD, hingga Perguruan Tinggi sangat jauh dari memadai, di sisi lain tuntutan biaya pendidikan untuk anak-anak para tenaga pengajar ini sangat mencekik dompet.
Keadaan semacam ini tidak mendapatkan banyak perhatian dari pejabat yang duduk di kabinet mana pun di Indonesia, setidaknya hingga tahun ini. Saya belum punya data pendukung pasti untuk klaim ini. Melihat kenyataan yang ada, perhatian pemerintah terhadap pendidikan di tanah air sangat kurang.
Membaca tulisan di milis beasiswa, saya punya idealisme untuk mulai 'menggelincirkan bola salju' pendidikan dengan membuat modul-modul dan tulisan-tulisan yang sedapat mungkin bisa diakses oleh seluruh penduduk di Indonesia. Upaya yang telah dirintis oleh ilmukomputer.org bisa menjadi contoh. Perlu upaya yang konsisten, sabar, dan sungguh-sungguh agar kondisi pendidikan di Indonesia bisa menyamai kondisi di India.

Intinya, mengutip beberapa pakar pendidikan India yang pernah berpesan pada saya, "Invest in human first, not in infrastructure".

Wallahu'alam bishawab...

Best Regards,

Pan Mohamad Faiz
DP PPI India


--
barliant@{ cbn.net.id, gmail.com}
Visit my Blog @ barliant.blogspot.com

Friday, November 23, 2007

Tentang Awan

Menurut ilmu fisika, sebuah benda bisa lepas dari gravitasi bumi asalkan dia bisa melampaui kecepatan kritis. Rasanya ini bisa menjelaskan kenapa awan tidak pernah lepas bebas dari angkasa bumi.

Begini.. awan itu kan sebenarnya kumpulan molekul air yang membubung ke angkasa karena efek pemanasan. Molekul-molekul air ini sebenarnya berasal dari badan-badan air yang ada di permukaan bumi. Karena mendapatkan energi yang cukup, mereka melepaskan diri dari badan air dan karena bobot jenisnya yang lebih ringan daripada udara di sekitarnya, molekul-molekul ini terbang bebas ke udara.

Pertanyaan yang muncul dari sini kemudian adalah mengapa sampai ketinggian tertentu molekul-molekul air ini tidak lepas bebas ke angkasa luar? Mengapa mereka berhenti pada ketinggian tertentu dan membentuk awan? Mustinya kan, karena bobot jenisnya yang ringan, mereka bisa melepaskan diri dari gravitasi bumi.. apalagi jika ditengok pada rumus gaya gravitasi yang muncul antara dua massa, semakin jauh jarak antara dua massa, maka semakin kecil gaya gravitasi yang muncul antara kedua massa tersebut. Artinya, semakin tinggi molekul udara lepas ke angkasa, semakin kecil gaya gravitasi bumi menarik kembali molekul-molekul air tadi.

invisible hands

Banyak penelitian mencari alternatif cara untuk bisa membuat orang terbang. Mulai dari teknologi sayap di pesawat terbang, teknologi rotor di helikopter, termasuk juga teknologi magnetic levitation untuk kereta.

Mungkin nggak ya.. energi magnetik ini serupa dengan teknologi angin. Aneh emang pemikiran gue, gue juga nyadar. Tapi maksud gue begini.. ambil misal peristiwa di mana sehelai daun atau kertas tertiup angin. Apa yang membuat daun itu bisa terbang mungkin bisa serupa dengan apa yang membuat sebuah kereta melayang tanpa tiang penyangga.

Arah pertanyaan gue nantinya begini.. apa sih sebenernya energi yang menyusun angin itu? Kalo dilihat secara fisika, angin itu kan isinya molekul-molekul udara, yang isinya campuran dari berbagai gas. Mulai dari oksigen, nitrogen, hidrogen, dan kawan-kawannya. Ketika angin bertiup, apa sih yang sebenarnya terjadi dengan molekul-molekul gas itu?

Lalu bagaimana dengan kejadian ketika energi magnetik menopang sebuah kereta? Apakah di sana ada 'molekul-molekul' seperti ketika angin menopang helai-helai daun?

Dari sini gue berpikir apa mungkin ya, kita bisa mencari energi alternatif yang bisa kita gunakan untuk membuat sebuah benda melayang...

Wednesday, November 14, 2007

Graph Mining

Sebagian teknik Data Mining menambang data yang direpresentasikan dalam bentuk graf. Secara matematis, graf itu adalah himpunan Vertex dan Edge. Ditulis:
G=(V,E).
Biasanya graf lebih sering digambarkan. Contoh paling gampang adalah peta. Sebuah peta bisa dianggap sebagai graf di mana kota-kota dalam peta mewakili vertex sedangkan jalan yang menghubungkan antara kota yang satu dengan kota yang lain mewakili edge.
Secara lebih luas, sebuah graf bisa merepresentasikan apa pun. Misalnya, vertex bisa merepresentasikan orang / individu sedangkan edge merepresentasikan hubungan pertemanan / persahabatan antara individu. Jika para individu ini memiliki account di friendster misalnya, maka graf yang dihasilkan disebut graph of social networking. Bagi mereka yang punya account friendster, pasti tahu kan apa yang namanya 1st degree friends, 2nd degree friends, dan seterusnya.
Aplikasi graf tidak hanya terbatas untuk merepresentasikan peta ataupun social networking. Banyak sekali masalah dunia nyata yang bisa dimodelkan dengan graf. Topik yang menarik dari konsep sederhana ini adalah Penambangan Graf (Graph Mining). Graph Mining mencari pola-pola yang menarik antara hubungan pertemanan misalnya. Dengan graph mining, kita bisa mencari potensi pertemanan antara seseorang dengan orang lain yang belum dia kenal. Mungkin juga kita bisa memprediksi apakah hubungan pertemanan dua orang berlainan jenis bisa meningkat ke hubungan yang lebih sakral semisal pernikahan misalnya.

Monday, September 17, 2007

Membangun Kamus dari Percakapan Mailing List

Sebuah mailing list yang bersifat teknis, seperti misalnya Bahtera, beranggotakan para penterjemah profesional. Seringkali mereka berbagi pengetahuan tentang padanan istilah dari satu bahasa (bahasa sumber) ke bahasa lainnya (bahasa tujuan) dengan melontarkan pertanyaan ke mailing list. Para kolega yang memiliki saran jawaban untuk pertanyaan yang diberikan mengirimkan jawabannya.

Seiring dengan bertambahnya waktu, pengetahuan tentang padanan istilah ini seringkali terlupakan. Ketika muncul pertanyaan tentang padanan istilah yang sama, maka para anggota mailing list kemungkinan besar akan kembali mengajukan pertanyaan yang kurang lebih sama. Hal ini terjadi karena sering kali arsip mailing list sulit ditelusuri. Dari pengamatan ini, muncul pemikiran, mengapa tidak bisa dibuat sebuah sistem yang memiliki kemampuan untuk menarik intisari dari sebuah thread mailing list, dan intisari ini disimpan ke dalam sebuah basis data yang bisa ditelusuri (searchable and browsable) untuk mempermudah penggunaan di masa yang akan datang.

Penelitian ini mencoba membangun sebuah sistem yang secara otomatis dan akumulatif, menambahkan kamus padanan istilah. Idenya adalah dengan mem-parsing percakapan di dalam sebuah thread mailing list untuk mengekstrak bagian-bagian penting yang menyusun kamus padanan istilah.

Friday, August 03, 2007

Kuliah jadi Komik

Bagi anda yang bergelut dalam dunia pendidikan, pasti tidak asing lagi dengan istilah KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Apaan sih itu? Secara singkat, kurikulum pendidikan di Indonesia sekarang ini harus mengutamakan kompetensi akhir yang ingin dicapai agar ketika lulus, para (maha)siswa dapat memiliki kecakapan (kompetensi) minimal sesuai dengan jenis dan jenjang studinya.

Sebagai contoh, bagi mahasiswa program Diploma, mereka dianggap kompeten jika mampu membuat sebuah sistem (apapun sistem itu). Bagi perkuliahan program Diploma, kecakapan praktis lebih diutamakan. Namun bagi para mahasiswa jenjang Strata 1 (S1), kompetensi yang diharapkan adalah lebih dari sekedar kecakapan praktis. Mereka diharapkan mampu melakukan analisa dan sintesa terhadap sebuah permasalahan.

Nah, judul postingan kali ini sengaja saya ambil sebagai pelesetan dari istilah KBK itu. KJK, Komik jadi Komik. Nah, makhluk apa lagi ini?

KJK adalah sebuah ide (saya pikir, kalau dilihat dari situsnya) yang masih berupa prototipe sangat awal. Idenya saya pikir diambil dari masalah "mengapa kebanyakan pelajar tidak tertarik mengikuti kuliah". Di sini, saya sengaja menuliskan pelajar, bukannya mahasiswa, karena acara tatap muka dalam artian penyampaian materi ajar kepada para peserta ajar tidak hanya berlangsung di tingkat pendidikan lanjut saja, tapi juga bisa kita temukan di tingkat dasar dan menengah.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari MIT ini sangat menarik. Kuliah yang disampaikan oleh pengajar di depan kelas, direkam dan kemudian ditransformasikan ke dalam bentuk komik. Permasalahannya adalah bagaimana memilih bagian-bagian dari rekaman yang akan dijadikan ke dalam bentuk komik? Tentu saja jika seluruh bagian (frame) dari video hasil rekaman komik yang dihasilkan akan menjadi terlalu membosankan.

Hasil penelitian mereka disampaikan dalam bentuk karya ilmiah yang bisa dilihat dengan klik di sini (format PDF). Potensi penggunaannya sangat beragam. Kalau sekarang ini kebanyakan film dibuat berdasarkan komik (Spiderman, Superman, dan sebagainya) maka penelitian ini bisa digunakan untuk membuat komik dari film-film yang masuk Box Office. Isn't it interesting?

Friday, March 23, 2007

What are these all about?

Kenapa.. ada apakah dengan Association Rules in Text Mining?

Can we use it to find semantic underlying the corresponding paragraph?

What about Inference Rules?

What are the problems in Text Understanding?

Friday, March 09, 2007

what are these terms mean?

Kernel Machines

Bayesian networks

Machine learning

N-grams

(the list is growing..)