Monday, September 05, 2011

Kalender Fase Bulan Agustus 2011 / Syawal 1432

Aug 2011

SunMonTueWed ThuFriSat
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

Sept 2011

SunMonTueWed ThuFriSat
        1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

Merujuk pada kalender fase bulan di atas, pada tanggal 29 Agustus 2011, hilal sama sekali belum bisa dilihat. Hilal baru mulai bisa terlihat pada tanggal 30 Agustus 2011.

Kalau dibandingkan dengan fase purnama bulan Syawal 1432, keadaan purnama dicapai pada tanggal 11, 12, dan 13 Septembe 2011.

Sumber:
  1. MoonPhase Calendar, http://stardate.org/nightsky/moon

Friday, September 02, 2011

Satu-satunya Negara yang Lebaran 31 Agustus 2011?

Di tahun Hijriah 1432 ini, Idul Fitri di Indonesia sekali lagi dirayakan dua kali. Semata-mata karena adanya perbedaan kriteria dalam menetapkan awal bulan Hijriah. Sebagian masyarakat di Indonesia menyayangkan keputusan pemerintah, dan menyesalkan kenapa pemerintah membuat keputusan untuk menetapkan tanggal 1 Syawal 1432 H bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 2011, bukannya tanggal 30 Agustus 2011. Mereka antara lain menyesalkan dengan mengajukan alasan bahwa di seluruh dunia, hanya Indonesia lah satu-satunya negara yang secara formal menetapkan keputusan ini.

Sebagai pembanding, berikut ini adalah kutipan dari situs hilalsighting.org di Amerika Utara yang ternyata menetapkan Idul Fitri 1 Syawal 1432 H jatuh bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 2011.

Penafian: Artikel ini saya buat bukan bertujuan untuk memperpanjang polemik perbedaan perayaan Hari Raya Idul Fitri. Semata-mata tujuannya untuk memberikan pengetahuan kepada khalayak luas, bahwa bukan hanya Indonesia satu-satunya negara yang menetapkan Idul Fitri tahun 1432 H jatuh bertepatan dengan 31 Agustus 2011.

No positive naked-eye hilal sighting reports have been received at this time from anywhere in the mainland USA or Canada.  On the basis of many negative reports, there is an overwhelming probability that we will complete 30 days of Ramadan, and Eid ul Fitr will fall on Wednesday, August 31. 

Hilal Imajiner 1 Syawal 1432 H dari Cakung

Salin-tempel dari http://moeidzahid.site90.net/rukyat/rkyt_syawal_1432.htm.


HILAL IMAJINER 1 SYAWAL 1432 DARI CAKUNG
Oleh : Ibnu Zahid Abdo el-Moeid , http://moeidzahid.site90.net
Dalam menyikapi kesaksian rukyat di pantai Cakung Jakarta Timur sebagian kalangan berargumen "Walaupun secara hisab tidak ada kemungkinan hilal bisa dirukyat akan tetapi jika Alloh menghendaki kenapa harus ditolak?". Dalam kaedah ilmu hakekat argumen tersebut tidaklah salah, akan tetapi tidak bisa dijadikan dasar untuk menentukan hukum syar'i, karena hukum berdasarkan kenyataan bukan hakekat.
Syarat pertama kesaksian rukyat hilal adalah adilnya seorang saksi (Al-Adalah/Kredibel) dan yang kedua adalah adanya obyek hilal yang bisa dilihat secara indera, akal, adat dan syara'. Jadi apabila ahli hisab sepakat secara ilmiah tidak mungkinnya hilal untuk dilihat, maka kesaksian seseorang atau beberapa orang adil sekalipun yang menyaksikan hilal harus ditolak, karena hisab adalah qothi sedangkan rukyat adalah dhonni, I'anatut Tholibin juz 2 hal 216 (Maktabah Syamilah 3.8)
Kesaksian melihat hilal tidaklah serta merta harus diterima hanya karena saksi bersedia untuk disumpah. Hilal bukanlah benda gaib, hilal adalah obyek nyata yang bisa diamati, dianalisa dan diprediksi posisi keberadaannya secara ilmiah. Kesaksian yang tidak rasional memang seharusnya ditolak. Misalnya, ketika hari sedang mendung, kemudian pada pukul 5 sore seseorang menyerukan bahwa sudah tiba saatnya berbuka puasa karena telah melihat matahari terbenam di ufuk barat, yang demikian itu tidak bisa diterima walaupun kesaksian tersebut diperkuat dengan sumpah sekalipun.
Pun juga kesaksian melihat hilal di Cakung Jakarta Timur memang seharusnya dipertanyakan karena tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan yakni hisab hakiki (qoth'i). Memang sebagian hisab taqribi (hisab yang perhitungannya belum menggunakan segitiga bola) mengklaim bahwa ketinggian hilal pada tanggal 29 Agustus 2011 tersebut sudah mencapai 3-4 derajat. Akan tetapi berdasarkan penelitian kami sepuluh tahun terakhir ini hasil perhitungan dengan hisab taqribi jauh dari realitas di lapangan dengan pengukuran yang seksama menggunakan perangkat theodolite. Dan ketidak sesuaian hisab taqribi ini juga bisa dibuktikan ketika terjadinya gerhana bulan maupun gerhana matahari yang mana kesalahannya mencapai 1 jam.
Untuk itu menurut hemat penulis agar tidak menambah perselisihan dalam penentuan awal Romadlon, Syawal dan Dzulhijjah diantara para ahli hisab sendiri, sebaiknya tidak menggunakan hisab taqribi dalam penyusunan kalender hijriyah, bersikaplah obyektif dalam menilai keakurasian sebuah metode hisab karena kitab hisab bukanlah kitab suci yang tidak boleh dikritisi. Kitab hisab/falak seharusnya dikoreksi terus-menerus dengan melakukan pengukuran seksama terhadap matahari dan bulan agar sesuai dengan perkembangan zaman dan realitas yang ada.
Seperti diberitakan beberapa media televisi, seperti di TvOne bahwa hilal awal Syawal 1432 hijriyah terlihat di Cakung Jakarta Timur dengan ketinggian 3,5 derajat. Andaikata klaim itu dianggap benar tentu satu hari berikutnya 30 Agusuts 2011 ketinggian hilal minimal sudah mencapai 15,5 derajat karena secara rata-rata kecepatan bulan dalam sehari semalam diatas 12 derajat. Akan tetapi realitasnya satu hari berikutnya tinggi hilal saat maghrib hanya 14° 10' 50"
Setelah tidak berhasil melihat hilal pada hari Senin, 29 Agustus 2011, kami Lajnah Falakiyah NU Kabupaten Gresik bersama Lajnah Falakiyah NU Surabaya dan Lajnah Falakiyah Lanbulan Madura melakukan observasi hilal pada hari berikutnya (Selasa, 30 Agustus 2011) di bukit Condrodipo Kebomas Gresik koordinat 112° 37' 2,5" BT, 7° 10' 11,1'' LS.
Dalam observasi ini kami menggunakan tiga theodolite, Nikon NE-202, Nikon NE-102 dan theodolite China. Sebelum pengamatan hilal berlangsung azimut theodolite kami kalibrasi dengan matahari. Petunjuk waktu menggunakan Casio W96H dikalibrasi dengan Atom Time. Untuk mengarahkan theodolite ke arah hilal kami menggunakan tabel yang kami persiapkan sebelumnya dengan algoritma Irsyadul Murid dan sebagai pembanding kami menggunakan Accurate Times dan Ascript.
Sabit bulan pertama kali terlihat pada pukul 17:14:00 (sebelum maghrib) ketika theodolite kami arahkan ke posisi Alt 18° 15' 05", Azm 269° 49' 10". Pada posisi tersebut hilal tidak pas di tengah-tengah theodolite, lalu posisisinya kami perbaharui mengikuti obyek hilal tersebut dan terbaca di layar theodolite posisinya berada di Alt 17° 49' 25", Azm 269° 49' 10". Untuk melihat foto saat tersebut silahkan klik link dibawah ini : http://moeidzahid.site90.net/rukyat/foto_rukyat_29_08_2011/foto_rukyat_29_08_2011_01.JPG
Setelah obyek hilal terdeteksi, kami mengikuti hilal sampai saat maghrib tiba yakni pukul 17:30:30 dimana posisinya berada di Alt 14° 10' 50", Azm 269° 20' 05". Untuk melihat foto saat tersebut silahkan klik link dibawah ini : http://moeidzahid.site90.net/rukyat/foto_rukyat_29_08_2011/foto_rukyat_29_08_2011_02.JPG
Dengan demikian klaim hilal dari Cakung yang melihat hilal di kisaran 3-4° derajat pada hari Senin 29 Agustus 2011 tidak sesuai dengan adanya bukti otentik yang diambil saat maghrib pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 di Condrodipo, Andaikata klaim hilal dari Cakung tersebut dianggap benar tentu satu hari berikutnya ketinggian hilal minimal sudah mencapai 15,5 derajat karena secara rata-rata kecepatan bulan dalam sehari semalam diatas 12 derajat. Akan tetapi realitas yang ada satu hari berikutnya tinggi hilal saat maghrib hanya 14° 10' 50"
Maka bisa jadi obyek yang terlihat di Cakung tersebut bukanlah hilal 1 Syawal 1432 H. melainkan potongan awan yang terkena sinar matahari yang akhirnya terbentuk seperti hilal. Atau bisa jadi hilal imajiner yang timbul karena terobsesi oleh kenginan yang kuat untuk melihat hilal dengan dukungan system hisab yang ketinggian hilalnya berkisar antara 3°- 4°.
------------------
Penulis adalah :
- Dewan Pakar Lajnah Falakiyah NU Gresik
- Koordinator RHI (Rukyah Hilal Indonesia) wilayah Gresik
- Anggota Badan Hisab Rukyat Jawa Timur
- Litbang Forum Kajian Falak Jawa Timur
- Anggota ICOP (Islamic Crescents' Observation Project)

Friday, August 05, 2011

About Time to Excel in Life

Wolfgang Amadeus Mozart, the musical genius, once wrote to his friend,

“People err who think my art comes easily to me. I assure you, dear friend, nobody has devoted so much time and thought to composition as I. There is not a famous master whose music I have not industriously studied through many times.”

By the time he was twenty-eight years old, his hands were deformed badly because of so many hours he had spent practicing, performing, and gripping a quill pen to compose his extraordinary music.

There is no such a thing such as 'natural geniuses'. All those extraordinary things happened in human history takes time to achieve. Mention great names you have in mind, and read their biography, and learn what they did in their life. They devoted their life to whatever they are mastering. And when people talk about life, implicitly they talk about time, because life is about time.

Some people think the result will come instantly. They read one great book, and they think tomorrow they will get the 'big result'. It simply cannot happen.

Read many books, write many pages. Do many small errors, and learn from them. Be patient and be consistent. Don't give up because of those errors. And don't give up because the result seem so far away or so high to reach. Be confident and be patient to take a ladder a day, by the end of the week you will stepped seven ladders. And if you pay enough attention to the process of doing it, by the end of the year, you are 365 ladders higher than those people who are expecting instant results.

Patience is not the same as not doing anything. Patience is about put your faith about the end result, however long it will take to get there. Patience is about taking those ladders every day. Do something every day, whatever it is you can do. Take that one ladder today to make you higher than anyone else.

Time to excel in anything, takes time, endurance, and patience.

Tuesday, August 02, 2011

Imsakiyah Ramadhan 1432 (Jakarta, iCal)

Menindaklanjuti jadwal imsakiyah Ramadhan 1432 H untuk wilayah kota Jakarta beberapa waktu lalu, berikut ini terlampir data waktu imsakiyah tersebut dalam format iCal. Dengan menggunakan format ini, mereka yang memiliki PDA / Smartphone dapat memasukkannya ke dalam agenda / calendar, sehingga setiap kali waktu sholat tiba, PDA / Smartphone anda akan memunculkan display reminder dari waktu sholat yang bersangkutan.

Data waktu sholat dibuat dengan menggunakan kriteria Muslim World League, dengan ketinggian matahari di bawah ufuk untuk waktu sholat Subuh disesuaikan menjadi 20°, sesuai dengan kriteria yang digunakan oleh Badan Hisab dan Rukyat Departemen Agama RI. Kriteria penanggalan yang digunakan adalah metode hisab Imkanur Rukyat, sehingga akhir Ramadhan jatuh bersamaan dengan hari Selasa, 30 Agustus 2011.