Merujuk pada kalender fase bulan di atas, pada tanggal 29 Agustus 2011, hilal sama sekali belum bisa dilihat. Hilal baru mulai bisa terlihat pada tanggal 30 Agustus 2011.
Kalau dibandingkan dengan fase purnama bulan Syawal 1432, keadaan purnama dicapai pada tanggal 11, 12, dan 13 Septembe 2011.
Sumber:
MoonPhase Calendar, http://stardate.org/nightsky/moon
Di tahun Hijriah 1432 ini, Idul Fitri di Indonesia sekali lagi dirayakan dua kali. Semata-mata karena adanya perbedaan kriteria dalam menetapkan awal bulan Hijriah. Sebagian masyarakat di Indonesia menyayangkan keputusan pemerintah, dan menyesalkan kenapa pemerintah membuat keputusan untuk menetapkan tanggal 1 Syawal 1432 H bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 2011, bukannya tanggal 30 Agustus 2011. Mereka antara lain menyesalkan dengan mengajukan alasan bahwa di seluruh dunia, hanya Indonesia lah satu-satunya negara yang secara formal menetapkan keputusan ini.
Sebagai pembanding, berikut ini adalah kutipan dari situs hilalsighting.org di Amerika Utara yang ternyata menetapkan Idul Fitri 1 Syawal 1432 H jatuh bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 2011.
Penafian: Artikel ini saya buat bukan bertujuan untuk memperpanjang polemik perbedaan perayaan Hari Raya Idul Fitri. Semata-mata tujuannya untuk memberikan pengetahuan kepada khalayak luas, bahwa bukan hanya Indonesia satu-satunya negara yang menetapkan Idul Fitri tahun 1432 H jatuh bertepatan dengan 31 Agustus 2011.
No
positive naked-eye hilal sighting reports have been received at this
time from anywhere in the mainland USA or Canada. On the basis of
many negative reports, there is an overwhelming probability that we will
complete 30 days of Ramadan, and Eid ul Fitr will fall on Wednesday,
August 31.
Dalam menyikapi kesaksian rukyat di pantai Cakung Jakarta
Timur sebagian kalangan berargumen "Walaupun secara hisab tidak ada kemungkinan
hilal bisa dirukyat akan tetapi jika Alloh menghendaki kenapa harus ditolak?".
Dalam kaedah ilmu hakekat argumen tersebut tidaklah salah, akan tetapi tidak
bisa dijadikan dasar untuk menentukan hukum syar'i, karena hukum berdasarkan
kenyataan bukan hakekat.
Syarat pertama kesaksian rukyat hilal adalah adilnya seorang
saksi (Al-Adalah/Kredibel) dan yang kedua adalah adanya obyek hilal yang bisa
dilihat secara indera, akal, adat dan syara'. Jadi apabila ahli hisab sepakat
secara ilmiah tidak mungkinnya hilal untuk dilihat, maka kesaksian seseorang
atau beberapa orang adil sekalipun yang menyaksikan hilal harus ditolak, karena
hisab adalah qothi sedangkan rukyat adalah dhonni, I'anatut Tholibin juz 2 hal
216 (Maktabah Syamilah 3.8)
Kesaksian melihat hilal tidaklah serta merta harus diterima
hanya karena saksi bersedia untuk disumpah. Hilal bukanlah benda gaib, hilal
adalah obyek nyata yang bisa diamati, dianalisa dan diprediksi posisi
keberadaannya secara ilmiah. Kesaksian yang tidak rasional memang seharusnya
ditolak. Misalnya, ketika hari sedang mendung, kemudian pada pukul 5 sore
seseorang menyerukan bahwa sudah tiba saatnya berbuka puasa karena telah melihat
matahari terbenam di ufuk barat, yang demikian itu tidak bisa diterima walaupun
kesaksian tersebut diperkuat dengan sumpah sekalipun.
Pun juga kesaksian melihat hilal di Cakung Jakarta Timur
memang seharusnya dipertanyakan karena tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan
yakni hisab hakiki (qoth'i). Memang sebagian hisab taqribi (hisab yang
perhitungannya belum menggunakan segitiga bola) mengklaim bahwa ketinggian hilal
pada tanggal 29 Agustus 2011 tersebut sudah mencapai 3-4 derajat. Akan tetapi
berdasarkan penelitian kami sepuluh tahun terakhir ini hasil perhitungan dengan
hisab taqribi jauh dari realitas di lapangan dengan pengukuran yang seksama
menggunakan perangkat theodolite. Dan ketidak sesuaian hisab taqribi ini juga
bisa dibuktikan ketika terjadinya gerhana bulan maupun gerhana matahari yang
mana kesalahannya mencapai 1 jam.
Untuk itu menurut hemat penulis agar tidak menambah
perselisihan dalam penentuan awal Romadlon, Syawal dan Dzulhijjah diantara para
ahli hisab sendiri, sebaiknya tidak menggunakan hisab taqribi dalam penyusunan
kalender hijriyah, bersikaplah obyektif dalam menilai keakurasian sebuah metode
hisab karena kitab hisab bukanlah kitab suci yang tidak boleh dikritisi. Kitab
hisab/falak seharusnya dikoreksi terus-menerus dengan melakukan pengukuran
seksama terhadap matahari dan bulan agar sesuai dengan perkembangan zaman dan
realitas yang ada.
Seperti diberitakan beberapa media televisi, seperti di TvOne
bahwa hilal awal Syawal 1432 hijriyah terlihat di Cakung Jakarta Timur dengan
ketinggian 3,5 derajat. Andaikata klaim itu dianggap benar tentu satu hari
berikutnya 30 Agusuts 2011 ketinggian hilal minimal sudah mencapai 15,5 derajat
karena secara rata-rata kecepatan bulan dalam sehari semalam diatas 12 derajat.
Akan tetapi realitasnya satu hari berikutnya tinggi hilal saat maghrib hanya 14°
10' 50"
Setelah tidak berhasil melihat hilal pada hari Senin, 29
Agustus 2011, kami Lajnah Falakiyah NU Kabupaten Gresik bersama Lajnah Falakiyah
NU Surabaya dan Lajnah Falakiyah Lanbulan Madura melakukan observasi hilal pada
hari berikutnya (Selasa, 30 Agustus 2011) di bukit Condrodipo Kebomas Gresik
koordinat 112° 37' 2,5" BT, 7° 10' 11,1'' LS.
Dalam observasi ini kami menggunakan tiga theodolite, Nikon
NE-202, Nikon NE-102 dan theodolite China. Sebelum pengamatan hilal berlangsung
azimut theodolite kami kalibrasi dengan matahari. Petunjuk waktu menggunakan
Casio W96H dikalibrasi dengan Atom Time. Untuk mengarahkan theodolite ke arah
hilal kami menggunakan tabel yang kami persiapkan sebelumnya dengan algoritma
Irsyadul Murid dan sebagai pembanding kami menggunakan Accurate Times dan
Ascript.
Sabit bulan pertama kali terlihat pada pukul 17:14:00
(sebelum maghrib) ketika theodolite kami arahkan ke posisi Alt 18° 15' 05", Azm
269° 49' 10". Pada posisi tersebut hilal tidak pas di tengah-tengah theodolite,
lalu posisisinya kami perbaharui mengikuti obyek hilal tersebut dan terbaca di
layar theodolite posisinya berada di Alt 17° 49' 25", Azm 269° 49' 10". Untuk
melihat foto saat tersebut silahkan klik link dibawah ini :
http://moeidzahid.site90.net/rukyat/foto_rukyat_29_08_2011/foto_rukyat_29_08_2011_01.JPG
Dengan demikian klaim hilal dari Cakung yang melihat hilal di
kisaran 3-4° derajat pada hari Senin 29 Agustus 2011 tidak sesuai dengan adanya
bukti otentik yang diambil saat maghrib pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 di
Condrodipo, Andaikata klaim hilal dari Cakung tersebut dianggap benar tentu satu
hari berikutnya ketinggian hilal minimal sudah mencapai 15,5 derajat karena
secara rata-rata kecepatan bulan dalam sehari semalam diatas 12 derajat. Akan
tetapi realitas yang ada satu hari berikutnya tinggi hilal saat maghrib hanya
14° 10' 50"
Maka bisa jadi obyek yang terlihat di Cakung tersebut
bukanlah hilal 1 Syawal 1432 H. melainkan potongan awan yang terkena sinar
matahari yang akhirnya terbentuk seperti hilal. Atau bisa jadi hilal imajiner
yang timbul karena terobsesi oleh kenginan yang kuat untuk melihat hilal dengan
dukungan system hisab yang ketinggian hilalnya berkisar antara 3°- 4°.
Wolfgang Amadeus Mozart, the musical
genius, once wrote to his friend,
“People err who think my art comes
easily to me. I assure you, dear friend, nobody has devoted so
much time and thought to composition as I. There is not a famous
master whose music I have not industriously studied through many
times.”
By the time he was twenty-eight years
old, his hands were deformed badly because of so many hours he had
spent practicing, performing, and gripping a quill pen to compose his
extraordinary music.
There is no such a thing such as
'natural geniuses'. All those extraordinary things happened in human
history takes time to achieve. Mention great names you have in mind,
and read their biography, and learn what they did in their life. They
devoted their life to whatever they are mastering. And when people
talk about life, implicitly they talk about time, because life is
about time.
Some people think the result will come
instantly. They read one great book, and they think tomorrow they
will get the 'big result'. It simply cannot happen.
Read many books, write many pages. Do
many small errors, and learn from them. Be patient and be consistent.
Don't give up because of those errors. And don't give up because the
result seem so far away or so high to reach. Be confident and be
patient to take a ladder a day, by the end of the week you will
stepped seven ladders. And if you pay enough attention to the process
of doing it, by the end of the year, you are 365 ladders higher than
those people who are expecting instant results.
Patience is not the same as not doing
anything. Patience is about put your faith about the end result,
however long it will take to get there. Patience is about taking
those ladders every day. Do something every day, whatever it is you
can do. Take that one ladder today to make you higher than anyone
else.
Time to excel in anything, takes time,
endurance, and patience.
Menindaklanjuti jadwal imsakiyah Ramadhan 1432 H untuk wilayah kota Jakarta beberapa waktu lalu, berikut ini terlampir data waktu imsakiyah tersebut dalam format iCal. Dengan menggunakan format ini, mereka yang memiliki PDA / Smartphone dapat memasukkannya ke dalam agenda / calendar, sehingga setiap kali waktu sholat tiba, PDA / Smartphone anda akan memunculkan display reminder dari waktu sholat yang bersangkutan.
Data waktu sholat dibuat dengan menggunakan kriteria Muslim World League, dengan ketinggian matahari di bawah ufuk untuk waktu sholat Subuh disesuaikan menjadi 20°, sesuai dengan kriteria yang digunakan oleh Badan Hisab dan Rukyat Departemen Agama RI. Kriteria penanggalan yang digunakan adalah metode hisab Imkanur Rukyat, sehingga akhir Ramadhan jatuh bersamaan dengan hari Selasa, 30 Agustus 2011.